Sabtu, 02 Juli 2011

Bolehkah Aku Mencintainya, Tuhan?

 Aku berlari sekuat tenaga menuju kelasku. Peluh membasahi sekujur tubuhku. Sial! Kenapa harus telat di hari sepenting ini! Jika aku tidak sampai di kelas sebelum Pak Duta datang, bisa sia-sia usahaku belajar mati-matian kemarin malam hanya demi ulangan kimia menyebalkan ini. Langkah kakiku semakin cepat dan dengan reflek membawaku ke koridor kelas yang selalu aku lewati. Aku sedikit lega ketika melihat dari jauh pintu kelasku yang masih terbuka. Kutambah kecepatanku dan entah apa yang terjadi kemudian, lututku terasa nyeri sekali. Aku terjerembab di lantai koridor tempatku berlari dan sadarlah aku telah menabrak seseorang dengan begitu kerasnya.        
    Mataku tertuju pada pemandangan di depanku. Seorang gadis tengah memunguti lembaran-lembaran kertas yang berterbangan di lantai. Aku bisa melihat darah yang mengalir pada punggung tangannya ketika dia merapikan lembaran kertas itu. Aku berusaha berdiri dan membersihkan seragamku yang penuh debu, kemudian menghampiri gadis yang kutabrak tadi.           
“maaf, kau baik-baik saja?” tanyaku seraya mengulurkan tangan kepadanya.
Dia berusaha berdiri sendiri dengan lutut yang gemetar sambil terus mencengkram erat lembaran-lembaran itu dalam dekapannya. Dia mengangguk perlahan lalu menggeser tubuhnya ke kiri untuk melewatiku. Tidak sedikitpun tatapan matanya tertuju ke arahku.           
“hey, tanganmu berdarah” kataku lagi. Mungkin dia marah besar padaku karena tak sengaja  menabraknya tadi. Gadis itu menghentikan langkahnya untuk mengamati jari-jari tangannya yang berdarah hingga menodai lembaran kertas putih ditangannya. Aku benar-benar merasa bersalah kepadanya. Kuambil sapu tangan dalam saku celanaku dan memberikannya pada gadis itu. Dia menerimanya dan tersenyum memandangku sambil mengucapkan terimakasih kemudian melanjutkan langkahnya lagi.        
    Aku tertegun melihatnya. Tatapan matanya benar-benar ramah dan tak sedikitpun menunjukkan ekspresi marah dalam raut wajahnya yang rupawan. Tak mampu aku mengalihkan pandangan darinya hingga dia menghilang memasuki salah satu ruangan kelas. Aku kembali tersadar. Tapi terlambat. Kulihat pintu kelasku yang telah tertutup rapat dengan tatapan menyedihkan. Dan dengan gontai aku kembali melangkah ke ruang kelasku. Gagal sudah usahaku untuk mengikuti ulangan hari ini. Pak Duta tidak akan membiarkanku masuk begitu saja dan memperbolehkan aku mengikuti ulangannya. Aku duduk bersandar dikursi panjang depan kelasku dan menunggu hingga jam pelajaran pertama usai.
                                                                         ***
  Hari ini aku datang pagi sekali. Aku sengaja memperlambat langkah kakiku mulai dari tempat parkir hingga ke ruang kelas. Mencoba mengamati satu persatu kelas yang kulewati dangan harapan bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Apa aku benar-benar telah jatuh cinta padanya? Pada pandangan pertama? Mustahil… mana mungkin aku jatuh cinta pada gadis  seperti dia?           
Aku berhenti sejenak dan memejamkan mata. Berharap bisa meredam perasaan aneh yang tiba-tiba muncul dan mengganggu pikiranku. Berusaha membuang senyumannya dari benakku…           
“Assalammu’alaikum…” ada suara yang menyapaku. Dengan cepat aku membuka mata dan melihat wajah rupawan yang pernah aku lihat sebelumnya. Hatiku berdesir ringan begitu tahu dari mana asal suara selembut beledu itu datang. Gadis itu… Aku tak tahu apa yang sebaiknya harus kukatakan…          
  “eh, iya. Wa...wa’alaikum salam…” jawabku ragu. Dia tersenyum simpul mendengar jawabanku dan menyodorkan kain seputih gading padaku. Sapu tanganku. Aku mengambilnya dan memandangi sapu tangan itu sejenak sebelum kembali melihat wajahnya.         
   “terimakasih…” katanya.       
     “iya, maafin aku. Karena aku tanganmu terluka” lirihku mengingat kejadian kemarin.          
  “nggak apa… Selamat belajar, Assalammu’alaikum…” katanya lagi. Aku hanya terdiam melihatnya tersenyum. Namun perlahan senyumnya menghilang dan untuk beberapa saat dia menatapku tajam dengan kening berkerut, sebelum aku menyadari apa maksudnya.           
“eh, maaf… sebenarnya aku nggak biasa menjawab salam dari seorang muslim…” kataku pelan. Aku mencoba agar nada bicaraku selembut mungkin agar tidak melukai perasaannya. Kurasa dia mengerti maksud pembicaraanku. Ada semburat warna merah muda di rona wajahnya.       
      “maaf… aku… nggak tahu kalau…”           
“nggak apa kok, nggak perlu sungkan…” potongku. Keadaan ini benar-benar membuatnya salah tingkah.           
“eh, terimakasih… sampai jumpa…” dengan cepat dia membalikkan badannya untuk pergi.           
“tunggu… siapa namamu?” Tanyaku sebelum dia sempat melangkah lebih jauh lagi. Dia memutar badannya ke arahku.         
   “panggil saja Sivia” jawabnya singkat.          
  “aku Alvin, 11 IPA 3. Senang berkenalan denganmu, Sivia…”       
     “sama-sama…” dia menyunggingkan senyumnya lagi  kemudian berjalan menjauhiku. . Tak urung aku melihatnya pergi hingga menghilang dari jarak pandangku.            

                                                                       ***            
“woy, Vin! Dengerin gue bicara nggak sih?” Rio memukul bangkuku gusar. aku tak mengerti apa yang dibicarakannya tadi.
  “apaan sih!” jawabku kesal.           
“ngelamun mulu dari tadi… Gue bilang, gue tau sapa Sivia yang lo maksud itu” seketika aku duduk tegak di kursiku. Rio terlihat puas dengan dirinya sendiri.            
“apa lo dapet informasi baru tentang dia?” tanyaku tak sabar.         
   “nah, itu yang baru mau gue omongin…” aku memelototi Rio jengkel, memaksanya untuk segera bicara.
“oke, oke… dia ketua Takmir sekolah ini, dia masuk kelas Acceleration. Artinya kalian bakal sekelas bulan depan” Rio tersenyum iseng. Aku mengedipkan mata beberapa kali, tak percaya. Aku? Sekelas dengan gadis yang selama ini mengganggu pikiranku?            “sekarang dia di kelas apa?” tanyaku.          
  “11 IPA 1” tanpa pikir panjang lagi aku keluar kelas untuk menemuinya. Setidaknya, aku ingin akrab dengannya walau tak mungkin bersamanya. Aku berlari meninggalkan ruang kelasku hingga ke koridor awal sebelum tikungan.           
  Ragu-ragu kudekati pintu kelasnya. Tak lama, kulihat Sivia sedang menekuni buku di depannya dan sesekali menengok ke arah teman sebangkunya dan tersenyum. Aku bingung apa yang sebaiknya aku lakukan. Apa langsung aku sapa saja dia dari sini? Atau kuhampiri bangkunya terlebih dulu? Bagaimana kalau dia  mengacuhkanku? Mau kuletakkan dimana mukaku? Tuhan, lakukan sesuatu…           
“sedang apa disini?” aku mundur selangkah ketika mendengar pertanyaan itu.
  “eh, aku… mencarimu…” kataku kemudian. Sivia melihat ekspresiku dengan tenang. Melihat keseriusan dari raut wajahku. Dia tersenyum.           
“ada yang perlu kau bicarakan?” tanyanya.          
  “nggak… aku cuma ingin mengobrol denganmu” jawabku canggung. Lagi-lagi dia tersenyum, lalu mengangguk. Sivia memperhatikan aku dengan seksama, menungguku bicara. Sial! Kenapa aku tak bisa berkonsentrasi disaat seperti ini…         
   “Maaf… Ngomong-ngomong, nanti siang kamu ada acara nggak? Aku ingin makan siang bareng kamu…” aku bener-bener udah nggak waras kali ya? Mana mungkin dia akan terima tawaran bodohku ini…           
“baiklah… Dimana?” apa? Aku tak percaya mendengar kata-katanya barusan. Mustahil… “Alvin?” lirihnya tak sabar. Aku diam sejenak sebelum menjawab.      
      “eh, di kafe dekat perpustakaan umum? Aku tunggu kamu disana” kataku gugup.           
“bolehkah aku mengajak  teman dekatku?” tanyanya lagi
.“tentu saja…” jawabku ringan.
“Oke. Sampai ketemu siang nanti, ” ucapnya.           
“sampai ketemu juga… Makasih sebelumnya, …” dia tersenyum lagi padaku dan menggangguk. Kemudian masuk kembali ke kelasnya. Aku puas sekali hari ini
.                                                                              
                                                                     ***            

Setelah makan siang dengan Sivia sebulan yang lalu, kami jadi semakin akrab. Entah kenapa, perasaanku damai banget setiap dia ada di dekatku. Aku ingin tak peduli dengan perbedaan agama yang kita yakini, tapi aku juga tak bisa meninggalkan begitu saja aturan agama yang telah diajarkan kepadaku sejak lahir. Sivia sangat menghormati agamaku. Sebagai ketua takmir, dia tak pernah sekalipun menyinggung atau mencoba membuatku menyukai agamanya. Dia tak mengacuhkan sindiran orang-orang yang syirik padanya karena berteman akrab denganku.         
   Malam ini aku berjanji pada Sivia akan membantunya membuat dekorasi mushola sekolah untuk peringatan datangnya Bulan Ramadhan. Aku tahu pasti apa yang dilakukan umat Islam pada bulan itu. Sampai sekarang aku tak habis pikir, mengapa mereka rela menyiksa diri sendiri hanya untuk menahan makan dan minum selama satu bulan penuh.                       
“sebaiknya kamu pulang, kamu udah banyak membantu hari ini” Sivia tersenyum. Kubalas senyumannya.          
  “kamu juga harus pulang kan? Butuh tumpangan? Sebenernya aku juga pingin tau dimana rumahmu” aku mengedipkan sebelah mataku. Sivia tertawa renyah melihatku. Suara tawanya, membuat perutku bergejolak menyenangkan.        
“kalau kamu nggak keberatan? Aku mau sholat isya’ dulu…” lirihnya.
Aku mengangguk dan mengikutinya sampai diteras mushola. Sivia segera beranjak untuk melakukan ibadahnya. Kusandarkan tubuhku kesalah satu tiang didekatku. Tersenyum dalam hati merasakan perasaan aneh ini. Rasanya sudah tak sanggup lagi aku memendam rasa cintaku padanya terlalu lama.           
Tapi aku juga tak ingin dia menjauhiku karena perasaanku ini. mungkin sebaiknya kusimpan saja dulu. Aku melirik kedalam mushola, dan kulihat Sivia bersembahyang dengan tenang. Kuamati gerakan yang dilakukannya dengan seksama. Semua gerakannya terlihat sangat anggun. Aku benar-benar tersihir dengan pemandangan di depanku. Belum pernah kulihat seseorang dengan raut wajah seikhlas itu. Kelembutan yang terpancar dari dalam hatinya membuat wajahnya seakan bersinar. Sebutir air mata membasahi pipinya ketika dia menengadahkan tangannya. Bisa kulihat kepedihan dari sorot matanya, seakan menuntut pertolongan yang tak kunjung datang. Sivia menangis pada Tuhannya…          
  Begitu kulihat Sivia menghapus air mata dan melipat mukenahnya, aku kembali ke posisiku semula. Selama ini aku tak pernah tahu apa yang membuatnya begitu sedih. Yang kutahu, dia gadis ceria yang penuh sopan santun pada semua orang. Kudengar derap langkah pelan mendekatiku. Aku tahu itu Sivia. Ketika kulihat wajahnya, tak nampak sedikitpun bekas air mata dipipinya. Raut wajah kembali berseri seperti biasa karena senyuman yang selalu menghiasinya.           
“maaf lama menunggu…” katanya tersipu.           
“nggak apa kok. Pulang yuk?” jawabku seraya berdiri dan berjalan mendekati mobilku. Sivia menggangguk.
                                                                      ***
“disini rumahmu?” tanyaku ketika sampai di depan rumah Sivia. Sivia mengangguk dan tersenyum. Kali ini ada yang aneh dalam senyumannya.
“Sivia, kenapa wajahmu pucat?” tanyaku.
Matanya terlihat sayu, dan ada semburat putih pucat pada pipinya. Apa dia menangis lagi selama perjalanan pulang? Aku menunggu Sivia menjawab pertanyaanku. Dia hanya menundukkan kepala sesaat kemudian menggeleng.           
“maaf merepotkan Alvin, aku harus masuk” kata Sivia.        
“baiklah, selamat malam… ” Tuhan… apa yang terjadi padanya…  
                                                                              ***            
Beberapa hari kemudian, aku mendengar kabar Sivia masuk rumah sakit. Aku segera mendatangi rumah sakit itu.
“Alvin? Terimakasih telah menolong Sivia tempo hari” Tanya seorang wanita paruh baya, ketika melihatku masuk kedalam ruangan tempat Sivia diopname. Kurasa beliau pasti ibu Sivia. Bisa kulihat sorot gelisah dalam tatapan matanya.         
   “sama-sama, bagaimana keadaan Sivia bu?” tanyaku cemas. Kulirik salah satu sudut ruangan itu. Sivia tergeletak lemah tak berdaya dengan selang-selang infuse yang terkait pada punggung tangan dan kedua lubang hidungnya. Matanya sama sekali tak bergerak. Tapi tetap saja, raut wajahnya menunjukkan ketenangan dan keikhlasan yang luar biasa.. Pandanganku kembali pada ibu Sivia, karena tak kunjung menjawab pertanyaanku. Beliau menggeleng sedih.         
   “Sivia divonis menderita Leukimia” Beliau mendekap matanya dengan kedua tangannya sambil tersedu. Tenggorokanku tercekat mendengar berita itu. Aku berjalan mendekati tempat tidur Sivia. Kulitnya putih pucat terkena cahaya mentari senja yang masuk melalui kelambu jendela yang sedikit terbuka. Kuamati wajahnya yang syahdu sambil memuji keagungan Tuhan dalam hati. Wajah yang terpahat sempurna itu kini tenggelam dalam kepedihan.           
“bu… berapa lama Sivia tertidur?” lirihku. Tak sedetikpun mengalihkan pandangan darinya. Sejak dibawa ke rumah sakit aku belum sempat menjenguknya sama sekali. Mungkin sudah tiga hari yang lalu…           
“hari pertama dibawa kemari, Sivia sudah tak punya tenaga lagi bahkan untuk sekedar membuka matanya. Dia menyembunyikan sakitnya dari semua orang sejak lama. Tapi dua hari sebelumnya, dia mengigau dalam tidurnya. Menyebut nama Allah, dan kau, Alvin. Berulangkali sambil meneteskan air mata walau terpejam” suara ibu Sivia terdengar parau karena terlalu sering menangis. Aku tak sanggup mengatakan apapun lagi. Apa maksudnya menyebut namaku? Apakah ada yang ingin disampaikan Sivia padaku?          
  “ibu…” samar-samar aku seperti mendengar suara Sivia. Kulirik sudut bibirnya yang bergerak. Apakah dia mengigau lagi?          
  “Sivia, apa kau sudah bangun nak?” beliau mendekatkan tubuh ketempat tidur Sivia dan memegang lembut tangannya. Perlahan, Sivia membuka matanya dan melihat ke arah ibunya.           
“ibu… Sivia ingin sholat…” ucapnya pelan. Suaranya jauh lebih lemah dari pada terakhir kali aku mendengarnya. Ibu Sivia membelai lembut dahi anaknya.           
“baiklah jika itu keinginanmu. Namun sebelumnya, ada yang ingin bertemu denganmu” beliau melihat ke arahku. Begitupun Sivia. Mataku perih melihat gurat kesedihan dalam raut wajahnya. Dia mengamatiku sejenak dan kemudian tersenyum. Senyum yang selalu penuh dengan keikhlasan. Aku berusaha membalas senyumnya sewajar mungkin. Sivia tidak mengatakan sepatah katapun padaku.            
Setelah itu ibunya menempelkan kedua telapak tangannya sendiri pada dinding dan melakukan gerakkan seakan-akan sedang membasuh wajah Sivia, membasuh kedua tangannya, dan gerakan lain yang mirip umat Islam lainnya ketika berwudhu dengan air. Aku tak mengerti itu juga bisa dilakukan dengan udara, atau… debu? Setelah selesai melakukan gerakan-gerakan itu ibunya membantu Sivia mengenakan mukena. Beliau duduk disamping Sivia yang mendekapkan tangannya di atas perut. Sudut bibirnya kembali bergerak-gerak tanpa suara. Matanya memandang lurus ke atas langit-langit ruangan putih itu. Sesekali kulihat dia meneteskan air mata.           
Sivia tetap bersembahyang kepada Tuhannya dalam keadaan seperti itu. Aku bisa merasakan semangatnya melakukan hal itu. Hatiku takjub. Dia sangat mencintai Tuhannya lebih dari apapun. Rasa cinta itu bisa dilihat oleh siapapun yang memandang matanya jauh ke dalam.           
“ibu…” panggilnya. Ibunya tersenyum padanya seraya menghapus air mata dipipinya. “Sivia ingin mengaji…” katanya lirih.           
“Sivia… Bagaimana kau bisa melakukannya, sedang duduk saja terlalu sulit bagimu. Apa ibu yang membacakan Al-Qur’an untukmu, nak?” mata beliau berkaca-kaca. Sivia menggeleng lemah.           
“bantu Sivia bersandar bu…” pintanya lagi. Kali ini ibunya tak bisa membantah keinginan Sivia. Dengan sigap aku juga membantu Sivia bangun untuk bersandar. Ibunya meletakkan kitab itu di atas bantal dipangkuan Sivia. Kemudian aku duduk di samping tempat tidur, mendengarkannya mengaji.           
Perlahan aku mulai mendengar suara Sivia. Suaranya lemah namun tetap terdengar jelas dan mengalun indah ditelingaku. Aku mendengarkan dengan seksama setiap huruf yang dibacakannya. Entah kenapa fikiran dan perasaanku seakan ringan tanpa beban. Hatiku terasa sangat damai…            
Walladzīna yu’minūna bimāā un’zila‘ilaika wamā’un’zila min’qoblika wabil’ā khiratihum yu’qinūn…”           
Tanganku gemetar mendengarnya. Seakan-akan aku mengetahui arti bacaan tersebut. Suara itu…  membuat hatiku terenyuh. Begitu dalam kurasakan, makna yang tersirat dalam setiap kalimat yang dilantunkan Sivia. Aku tak ingin meneteskan airmata sedikitpun. Tapi terlambat. Kalimat itu telah membuat hatiku turut menangis… * 
(dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kita-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau serta mereka yakin akan adanya akhirat. Q.S. Al-Baqarah : 4) 
                                                                        ***           
  Seminggu kemudian.           
“As’hadu’allah illaha’illallāh… Wa’as’hadu’anna muhammadarrasulullāh…” ucapku dengan mantap. Tak ada keraguan sedikitpun dalam hatiku untuk mengucapkan dua kalimat syahadat itu. Dengan disaksikan Sivia, ibunya, dan salah seorang ulama, aku resmi masuk Islam. Agama yang telah memberikan kedamaian luar biasa bagiku, yang membuat hatiku terasa begitu sejuk ketika mengingatnya. Kini aku seorang muslim. Dan aku sangat bahagia memilih jalan hidupku ini.           
Kulihat Sivia yang duduk tak jauh dari sampingku. Dia tersenyum haru. Mungkin hanya perasaanku saja, pandangan Sivia seperti melihat seseorang yang sudah lama ingin dijumpainya. Seakan dia sangat merindukanku.           
Aku mengantarkan Sivia dan ibunya pulang dengan mobilku. Sepanjang perjalanan, Sivia memejamkan matanya , entah kenapa? namun tetap memancarkan keikhlasan dalam raut wajahnya. Namun entah kenapa, wajah rupawan yang begitu lembut itu kini menyimpan sedikit gurat kegelisahan meski senyuman selalu mewarnainya. Perlahan, kudengar suara isak tertahan dari ibu Sivia. Beliau menunduk sambil menggenggam tangan kanan Sivia erat-erat.           
Hatiku bergetar. Perlahan kuhentikan laju mobil dan menepi disudut jalan. Aku berpaling ke belakang, memandang Sivia lekat-lekat. Tanpa sadar air mataku jatuh. Sebelum aku sempat menghapusnya, ibu Sivia menyodorkan sepucuk surat yang diambilnya dari tangan kanan Sivia. Aku menguatkan hati untuk membaca pesan terakhir yang ingin disampaikan Sivia padaku…
Assalammu’alaikum…        Disaat kamu membaca tulisan ini, mungkin aku telah pergi menghampiri kehidupanku yang sesungguhnya.       
Maafkan aku Alvin, aku tak sanggup mengucapkan kata-kata yang ingin aku sampaikan padamu sejak dulu. Aku hanya tak ingin menodai hatiku karena mencintai orang yang salah.        
Aku tahu pasti, waktuku tak lama lagi. Aku tak ingin menyisakan kenangan terlalu banyak bersamamu. Namun bagaimanapun juga, aku ingin kau mengerti tentang segala isi hatiku terhadapmu.        
Aku mencintaimu Alvin        
Terimakasih atas semua yang telah kau berikan padaku, disisa nafas terakhirku. Semoga Allah selalu melindungimu…      
 Wassalammu’alaikum…  Sivia            
 Hatiku berdesir nyaring. Sebutir air mata kembali membasahi pipiku. Aku menyebut nama Allah dalam hati berulang-ulang seraya bersyukur atas anugrah terindah yang telah diberikannya kepadaku. Allah mengirimkan Sivia untukku. Walau perjumpaan diantara kita sangat singkat, namun kenangan yang dibuatnya telah terpahat rapi dalam hatiku…           
Aku juga mencintaimu, Sivia… 
                                                                      ****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar